Siapakah Aku?

Mungkin lebih baik kita berpisah sementara, sejenak saja untuk menyendiri


Cinta itu mulia dan memuliakan cinta adalah caraku. Aku begitu sulit mencinta, tapi entah mengapa adalah dia yang bukan siapa-siapa kemudian hadir menyapa dalam deretan cerita.

Bagi kebanyakan orang, mengenal dia dan menjadi temannya adalah anugerah terindah, tapi tidak untukku. Mengenalnya, pun menjadi salah satu temannya adalah nikmat ujian untukku. Setidaknya itu yang aku alami. 

Ada sesal dan marah yang teramat ketika dia dengan polosnya mengupload fotoku walau hanya terlihat bagian belakang tubuhku saja. Sempat-sempatnya dia memotretku di perhentian lampu merah. Ah, sungguh menyebalkan! Ditambah, dengan beraninya dia men tag Instagramku, semakin menggemaskan!! Bahagia? bahagia ketika ada sosok laki-laki yang meng post gambarmu? Tidak! Kusampaikan tidak! Tidak sama sekali! 

Tapi alhamdulillahnya dia hanya beberapa jam saaja meng post gambar dan tulisan itu, setelahnya dia hapus post itu. Ah, cukup melegakan. 

Semenjak saat itu, aku memiliki banyak teman, teman wanita di dunia maya tepatnya. Aku bahagia dan bersyukur, mungkin hikmah dibalik itu adalah ini. Tapi lagi-lagi aku salah, hadirnya teman-teman wanita baru yang menyapa adalah untuk sebuah tujuan, adalah mereka yang begitu penasaran terhadap sosok pria yang meng post gambar yang ada diriku.

Tapi? Siapa aku? Hingga mereka harus bertanya padaku?!

Ya, dari wanita-wanita itu aku belajar bahwa cinta butuh yang namanya perjuangan.  Aku anggap proses mereka bertanya perihal sosok pria itu adalah bagian dari perjuangan, iya kan? 

Sungguh tak ada yang istimewa darinya, hanya sosok pria biasa yang berparas biasa dan berpenampilan biasa pula. Lantas? Apa istimewanya? karena tulisan-tulisan viralnya? Ah, tidak juga! Toh banyak juga penulis-penulis hebat ketimbang dia. Iya kan? Aku semakin heran kenapa banyak wanita yang mengagumi pria biasa seperti dia. Sungguh menyebalkan. 

Sejak pertemuan kedua di Yogya dengannya, aku berharap agar tak perlu lagi bertemu atau bahkan berkomunikasi dengannya. Hadirnya dia dalam hidupku sudah cukup memusingkan, ditambah wanita-wanita yang hadir  dihidupku hanya untuk mempertanyakan perihal pria itu. Siapa aku? Kenapa harus aku? Aku bukan siapa-siapanya! Kenal saja baru beberapa bulan. Sungguh menganehkan!!


Lagi-lagi aku aku tak paham skenario apa yang telah Allaah gariskan padaku dan dia. Entah kenapa kita malah berada disatu komunitas yang sama, komunitas yang bervisikan kebaikan. Aku tidak akan menyebutkan apa komunitasnya, karena kalian akan dengan mudah mengetahui siapa pria yang sedang aku ceritakan ini. Dan aku belum siap untuk itu. 

Katamu, "Kita tidak punya kuasa untuk menjaga hati orang-orang yang menaruh rasa pada kita, yang kita bisa lakukan adalah menjaga hati kita sendiri"

Dan, untuk segala yang akan terjadi di masa kini atapun masa depan. Aku hanya mampu menenun doa agar kamu si pria biasa tetap dijaga olehNya. 

Terima kasih karena pernah hadir dan menyapa dalam episode kehidupanku ini. Selamat mengembara dan mencari tahu perihal dia yang Allaah cipta untukmu!

Comments

  1. So shocked with this part. May Allah always protects you, dear :'))

    ReplyDelete

Post a Comment