Drama Macam Apa Ini??

Kesulitan itu berdurasi. Iyakan? Dan kemudahan perlahan kan menghampiri


Hanya Allaah yang tahu perihal isi hati tiap-tiap manusia, tentang ketulusan niat dan keseriusan tekad. Tanggal 31 Juli  2018 seorang anak manja memulai petualangannya, Bandara Adi Sucipto menjadi saksi pengembaraannnya menuju Don Mueang Thailand. Ini  bukan pertama kalinya si anak manja itu berpergian menggunakan pesawat, mungkin sudah kesekian kali bahkan berulang kali.

Apa yang akan kamu lakukan ketika uang 450.000 harus dirampas secara lembut di bandara? Padahal kamu tak punya uang lagi. Padahal hanya uang 450.000 itu yang kamu punya untuk bisa  bertahan di Thailand selama 1 bulan. Lantas, bagaimana jika uang 450.000 berpindah tangan dan tidak lagi menjadi milikmu? Ya, setidaknya itu yang aku rasakan.

Maskapai Air Asia adalah maskapai termurah, pun yang akan mengantarkan aku menuju Thailand. Dan, untuk pertama kalinya aku menggunakan maskapai Air Asia dan ternyata maskapai ini hanya memberikan free kabin 7 kg dan no bagasi. Awalnya aku tenang-tenang saja, mengingat koperku yang teramat kecil dengan satu ransel. Nah, 2 barang itu bisa aku bawa ke kabin sehingga aku tidak butuh bagasi, itu perkiraanku diawal. Dan ternyata aku salah! Seperti yang sudah aku ceritakan di tulisan sebelumnya  #Pertolongan Allaah itu pasti, bahwa aku menjadi koordinator dari pembuatan jaket dan secara tidak langsung aku memiliki tugas untuk membawa serta jaket-jaket itu ke Thailand. Secara  otomatis juga, aku membutuhkan bagasi untuk mengangkut jaket-jaket itu. Dan, tahukah kalian? berapa harga untuk membeli bagasi itu di bandara? Ya, kalian salah! Harganya 450.000 senilai dengan uang yang aku bawa saat itu. Drama macam apa ini!!!

Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian setelah aku merelakan uang itu. Ada sesal yang teramat karena dengan sombongnya meninggalkan atm-atm yang seharusnya bisa menjadi penyelamat. Ah, tak perlu ada yang disesali karena semua telah terjadi, Iya kan??

Mundur bukanlah keputusan yang tepat dan maju bukan juga pilihan terbaik. Ya, merendahkan diri dengan serendah-rendahnya, menghinakan diri dengan sehina-hinanya dihadapan Nya adalah langkah yang aku pilih untuk meredam gejolak ketakutan, kekhawatiran dan tangis yang ingin meluap-luap.
Ya, aku butuh peluk, aku butuh dikuatkan, aku butuh diyakinkan, aku butuh, aku butuh, butuh dan sangat butuh kalian kala itu.

Mungkin ini cara Allaah agar aku kembali kepadaNya, ketika manusia tak lagi bisa menolong, setidaknya aku masih punya Allaah yang kan selalu ada untukku. setidaknya itu yang aku percayai.

Setelah transit beberapa jam di Jakarta, finally pesawat yang aku tumpangi mendarat dengan gagah di Don Mueang Airport, Thailand.

Mendaratnya pesawat Air Asia juga turut serta mendaratkan ketakutan yang awalnya berada di puncak ketinggian, Setidaknya aku telah mengusahakan dengan sebaik-baik upaya dan sekarang biarkan Allaah yang menjalankan perannya. Aku percaya itu.

Setibanya di Thailand, aku membicarakan perihal kejadian yang aku alami selama di bandara. Perihal uang 450.000 yang aku  gunakan untuk pembelian bagasi. Alhamdulillah, Allaah melembutkan hati 15 orang tersebut dan berkenan mengganti uang bagasi tersebut.  450 ribu yang hilang diganti dengan 1000 bath yang datang. Ya, dengan uang 1000 bath aku akan survive selama 1 bulan di Thailand.

Berada di lingkungan yang sangat jauh dari peradaban islam, yang mana mayoritas penduduknya beragama budha, semakin membuat dosis kesurvivean semakin meninggi. Terlalu sulit untuk diceritakan, terlalu indah untuk dilupakan dan terlalu sakit untuk diulang. Biarlah semuanya menjadi cerita yang terpatri di memori dan bersemayam di hati. Biarlah segala cerita pahit selama menjadi delegasi Indonesia di Thailand menjadi cerita tersendiri buatku dan tak semua orang perlu tahu, karena mereka tak pernah paham tentang apa yang telah terjadi.

Dan bila saatnya telah tiba, biarkan cerita ini kubagikan padamu sahaja, bagaimana? Kamu siapkan menjadi pendengar setiaku(nantii)? Semoga.

#Seameo
#SeaTeacher
#Indonesia
#Thailand
#Selamat Menginspirasi

Comments